Reuni Akbar IAGEO 2025: Ruang Pulang, Saksi Demokrasi, dan Awal Langkah Baru
Dimas Juliana Fitriyanti
05 May 2026

Desember 2025 bukan sekadar penanda akhir tahun.
Bagi IAGEO UPN “Veteran” Yogyakarta, ia menjadi titik temu - tempat di mana perjalanan yang panjang, yang sempat berjalan sendiri-sendiri, akhirnya kembali bertaut dalam satu ruang yang sama.
Reuni Akbar kali ini tidak hanya tentang berkumpul. Ia hadir dengan satu rasa yang kuat: NYAWIJI.
Menyatu. Tanpa sekat. Tanpa jarak. Tanpa perlu lagi melihat siapa datang dari angkatan mana, siapa lebih dulu, siapa lebih lama.
Alumni datang dari berbagai penjuru, membawa cerita masing-masing. Ada yang datang dengan perjalanan yang mulus, ada yang datang setelah melewati fase hidup yang tidak mudah. Ada yang datang dengan pencapaian, ada yang datang dengan proses yang masih berjalan. Tapi ketika semua itu berada dalam satu ruang yang sama, yang terasa bukan lagi perbedaan, melainkan kesamaan.
Kesamaan bahwa kita pernah berada di titik yang sama.
Kesamaan bahwa kita pernah belajar di ruang yang sama.
Dan kesamaan bahwa, tanpa disadari, kita masih terhubung dalam satu rasa yang sama.
Di situlah NYAWIJI terasa nyata.
Tidak ada lagi sekat senior dan junior. Tidak ada jarak antar angkatan. Percakapan mengalir begitu saja, ringan, hangat, dan jujur. Tawa muncul tanpa dibuat-buat. Bahkan diam pun terasa cukup, karena kehadiran itu sendiri sudah memiliki makna.
Reuni Akbar ini kemudian menjadi lebih dari sekadar temu kangen. Ia menjadi ruang pulang.
Ruang di mana kita tidak perlu menjelaskan siapa diri kita hari ini, karena kita pernah saling mengenal dari awal.
Ruang di mana kita bisa kembali menjadi diri kita yang utuh, tanpa peran, tanpa label, tanpa beban.
Namun di balik kehangatan itu, ada satu momen yang memberi makna lebih dalam bagi perjalanan organisasi.
Reuni Akbar ini menjadi saksi bahwa proses demokrasi IAGEO telah berjalan dengan matang. Pemilihan Umum Ketua Umum periode 2025- 2029, yang sebelumnya dilaksanakan melalui rangkaian panjang dan partisipatif, mencapai puncaknya di momen ini. Pengumuman hasil Pemilu disampaikan secara langsung di hadapan para alumni yang hadir.
Tidak ada jarak antara proses dan hasil. Tidak ada sekat antara pemilih dan yang dipilih.
Semua menyaksikan bersama. Semua menerima bersama.
Di situlah makna memiliki itu muncul, bahwa kepemimpinan yang terpilih bukan hanya hasil dari sistem, tetapi hasil dari kebersamaan.
Momen itu terasa sederhana, tapi kuat.
Karena di dalamnya ada kepercayaan. Ada proses. Dan ada harapan yang dititipkan bersama.
Reuni Akbar juga menjadi ruang refleksi, tentang perjalanan yang sudah dilalui, tentang apa yang sudah dibangun, dan tentang apa yang masih bisa diperjuangkan ke depan. Periode 2022 - 2025 menjadi bagian dari cerita kolektif yang tidak terpisahkan, dengan berbagai dinamika, tantangan, dan capaian yang membentuk IAGEO hari ini.
Dari sana, muncul satu kesadaran yang semakin jelas:
IAGEO bukan hanya organisasi.
Ia adalah rumah.
Rumah yang tidak selalu harus ramai, tapi selalu ada.
Rumah yang mungkin tidak selalu kita datangi, tapi selalu kita ingat.
Dan rumah yang, ketika kita kembali, tidak pernah bertanya kita datang dari mana, tapi menerima kita apa adanya.
Dari Reuni Akbar ini, yang terbawa pulang bukan hanya foto, bukan hanya cerita, tapi rasa.
Rasa bahwa kita tidak sendiri.
Rasa bahwa kita punya tempat untuk kembali.
Dan rasa bahwa apa yang kita bangun bersama, sekecil apa pun, tetap berarti.
Energi dari kebersamaan itu kemudian tidak berhenti di sana. Ia bergerak.
Menjadi semangat baru.
Menjadi komitmen baru.
Menjadi langkah awal menuju fase berikutnya, menuju Munas, menuju arah baru organisasi, menuju perjalanan yang akan kembali kita jalani bersama.
Karena pada akhirnya, NYAWIJI bukan hanya tentang berkumpul dalam satu waktu.
Ia adalah tentang tetap terhubung, meski tidak selalu bertemu.
Tentang tetap merasa satu, meski berjalan di jalan yang berbeda.
Dan tentang memilih untuk kembali, bukan karena harus, tapi karena ingin.
Dan di momen itu, kita diingatkan kembali,
bahwa sejauh apa pun kita melangkah,
kita selalu punya satu tempat untuk pulang.


